Home

Pagi ini cukup cerah untuk memulai hari, sejak subuh saya sudah berkemas menyiapkan peralatan panjat dan tali untuk segera dimasukkan ke dalam ransel.

Dengan ditemani sepiring nasi goreng dan kopi manis, saya segera mengisi perut yang belum diisi sejak semalam. Nasi goreng yang hambar yang dibeli dari Warung Pak Gino, saya telan saja daripada harus kelaparan pagi ini.

Tepat jam 8, saya sudah ada di atas sadel sepeda motor diboncen Fahri, seorang sahabat saya yang bersedia menemani saya untuk memanjat hari ini.

Tujuan saya, Ciampea, sebuah tebing di pinggir kota Bogor, perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam jika kita harus menempuhnya menembus kemacaten kota Bogor yang dijuluki kota sejuta angkot.

Perjalanan cukup memakan waktu, karena kemacetan sudah cukup parah di wilayah Bogor dan arah menuju Ciampea, terlalu banyak Angkutan Kota yang tidak sebanding dengan penumpang yang ada.

Sejam kemudian, akhirnya kami tiba di Ciampea, dan setelah melapor dahulu ke Pak Ali, salah seorang penduduk yang kebunnya bersebelahan dengan tebing Ciampea dan sampai kini ditahbiskan oleh para pemanjat sebagai kuncennya Ciampea. Kami berjalan kaki ke kaki tebing, tidak cukup jauh hanya kurang dari 1 kilometer, namun cukup melelahkan karena jalanan menanjak dan menembus semak belukar yang lumayan membuat kulit gatal.

Grogi banget

Tebing Ciampe, memiliki struktur batuan kapur muda, berdiri tidak cukup tinggi sekitar 10 sampai 30 meter, namun memiliki beberapa jalur panjat yang cukup variatif dan menyenangkan karena pemula sampai dengan pemanjat mahir sekalipun dapat memanfaatkan rekahan ataupun tonjolan tebing ini dengan skill masing-masing.

Sebuah jalur panjat yang baru saja dibuat oleh beberapa pemanjat dari Jakarta dan Bogor yang berada di sisi barat, saya pilih, karena terlihat cukup menarik untuk dipanjat secara solo aid climbing, karena tingginya sekitar kurang lebih 25 meter dan akan memudahkan saya melakukan beberapa simulasi untuk ekspedisi nanti.

Setelah membongkar semua peralatan, saya mulai memasang satu persatu pengaman tambatan yang nantinya berfungsi sebagai “Belayer” atau pengaman pemanjatan paling awal saya nantinya saat menggunakan “Silent Partner”.

Dengan menggunakan 3 pengaman “Friend” ukuran kecil, saya mulai memanjat. Dan ini lah pengalaman saya pertama memanjat dengan mempercayakan keselamatan saya sepenuhnya dengan alat. Sungguh! saya cukup grogi juga awalnya…

Satu persatu saya melewati pegangan dan pijakan, ketinggian mulai dicapai. Tali mulai mengencang, Huff!!!….tambah kencang, ah! brengsek! posisi tali saya terkunci di “Silent Partner”… dengan cuman berpegang pada satu tangan, saya coba bereskan keruwetan tali ini, finally! satu masalah selesai!

Masuk ke bagian sulit lagi, hanya ada satu pegangan, Ah!…saya terpeleset dari pijakan saya, dan meluncur jatuh akhirnya….Srek! Pertama kalinya “Silent Partner” berfungsi untuk mencegah saya jatuh! Alat ini mengunci dengan sendirinya ketika terjadi beban mendadak pada silindernya.

Wow! keren….gumam saya dalam hati, asyik juga ternyata memakai alat ini.

Percaya pada alat

Pemanjatan solo menggunakan “Silent Partner” cukup membuat saya benar-benar terintimidasi untuk harus lebih percaya pada alat sepenuhnya. Ini harus membuat saya berpikir ulang tentang metode pemanjata yang sebenar-benarnya.

Sungguh pengalaman yang mengesankan bagi saya, karena selama ini saya berpartner dengan teman-teman sesama pemanjat, kini saya harus berpartner dengan diri saya sendiri dan alat tentunya.

Dari beberapa kali pemanjatan menggunakan silent partner, akhirnya saya memperoleh banyak pengalaman dan teknik baru yang ditemukan untuk memudahkan dan tentunya…menyelamatkan saya!

Evaluasi dan Evaluasi

Kekonyolan dan kekonyolan cukup menggelikan saya alami ketika saya pertama kali memanjat solo menggunakan alat, dari mulai kaki terpelintir tali karena salah posisi alat, tersangkut di tali karena alat mengunci dengan rapat, sampai dengan keragu-raguan saya apakah alat ini akan mengerem atau tidak, banyak sekali kejadian yang unik dan menarik.

Tapi semuanya menjadi pembelajaran buat saya untuk melakukan evaluasi dan evaluasi terus, dan terus melakukan improvisasi.

Ada gunanya juga memanjat di tebing sejuta umat, Ciampea, ini. Membuat saya percaya diri lagi dan ternyata seusia saya masih mampu memanjat pada level tertentu, cukup menyenangkan.

Advertisements

2 thoughts on “Memanjat di tebing sejuta umat, Ciampea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s